Cerbung: Kalimat Sakral Terucap part III

Cerbung: Kalimat Sakral Terucap
Cerbung: Kalimat Sakral Terucap
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di SerambiCatatan.com, kali ini admin kembali dengan lanjutan Cerita Bersambung Kelimat Sakral Terucap. Buat kalian yang belum baca part II nya silahkan Klik disini. Nah buat kalian yang udah baca dan penasaran dengan kelanjutannya, yuk langsung aja di baca kelanjutan ceritanya berikut. Selamat membaca guys. :)
-------------------------
Author : NF (Inisial Penulis)
Editor : HF (Inisial Editor)
Publisher : Serambicatatan.com

Kalimat Sakral Terucap part III

"Kalo aku sih pengennya kerja dulu baru kuliah tapi gak dikasih izin sama orang tua" curhat caca.

"Yaa mending langsung kuliah aja, kerja cape" nasehat mayang.

"Iyaa ca mending kuliah aja" saranku.

Waktu terus bergulir tidak terasa kumandang adzan dzuhur terdengar di telinga kami.

Kami menghentikan obrolan ini, kami memutuskan untuk shalat dzuhur dan meninggalkan kafe untuk pergi ke mesjid dekat kafe, kebetulan kafe ini tempatnya strategis selain berada di pinggir jalan alhamdulillah ke mesjid pun dekat.

Tak perlu waktu lama untuk sampai di mesjid, kami langsung pergi ke tempat wudhu wanita dengan ocehan kami yang banyak bicara.

Setelah shalat dzuhur aku ditinggal sendirian di mesjid karna kedua temanku sudah pergi pulang.

Rasanya tidak ingin pulang setelah mendengar kalam Allah mengalun indah dari shaf laki-laki.

"Masyaa Allah siapa ya suaranya merdu sekali"  batinku berucap.

"Astagfirullah, sudah ah pulang takutnya berpikir yang aneh-aneh" ujarku pelan sambil meninggalkan mesjid dan langsung pergi ke DTA.

Setelah selesai shalat asar aku memutuskan untuk segera pulang.

Dibalik pembatas antara dalam dan luar terdapat seorang gadis yang sedang menikmati senja.

Yang ditunggu namun datang hanya sebentar, tak apa ada kenikmatan melihat keindahan yang Allah ciptakan.

Adzan magrib berkumandang menandakan waktu shalat sudah dimulai.

Kujawab lantunan adzan dan langsung bergegas melaksanakan shalat magrib.

Kalam Allah terus kubacakan walaupun waktu yang sedikit aku harus meluangkan untuk membaca surat cinta dari Allah.

Setelah selesai shalat isya aku memutuskan untuk mengabari Adit perihal panitia sanlat.
Via whatsapp
"Assalamualaikum dit"

"Waalaikumsalam zi"

"Maaf dit ternyata a fahrul juga gak bisa dit :( "

"iya gpp zi"

"Maaf dit, jadi gak enak"

"Santai aja zi"

"Yaudah dit maaf ya, assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Kusimpan hp-nya di atas nakas, lalu duduk di pinggir ranjang.

Perasaan bersalah menghantuiku, rasa tidak enak kepada Adit terus berkeliling di otakku.

Daripada terus kepikiran aku memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya.

Langit malam hitam pekat dihiasi bintang-bintang yang selalu solid menghiasi langit tanpa lelah.

Seolah saling pengertian awan pun mengalah demi bintang agar terus menghiasi langit.
-----------------------------
Alhamdulillah sudah selesai untuk part III nya. Bagaimana menurut kalian para pembaca setia blog ini. Jangan lupa untuk like share dan subscribe biar gak ketinggalan lanjutan cerita terbarunya. Terimakasih sudah membaca sampai akhir.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Cerbung: Kalimat Sakral Terucap part II

Cerbung: Kalimat Sakral Terucap
Cerbung: Kalimat Sakral Terucap
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di SerambiCatatan.Com kali ini admin akan mempublikasikan lanjutan karya tulis cerita bersambung, buat para pembaca yang belum membaca part I nya silahkan klik disini. Oke langsung aja biar gak terlalu lama buat penasaran langsung aja. Selamat membaca :)
---------------------

Author : NF (Inisial Penulis)
Editor : HF (Inisial Editor)
Publisher : Serambicatatan.com

Kalimat Sakral Terucap part II

Jam menunjukan pukul 2.30 a.m., menandakan waktunya untuk bermanja-manja dengan sang pencipta; mengadu, meminta pertolongan, bersandar, banyak cerita.

Mungkin itu menjadi cara agar aku terus mendekatkan diri kepada sang penguasa.

 Yaa rabb hamba ini penuh dengan dosa, jadi ampuni dosa hamba yaa rabb. Yaa rabb ampuni dosa kedua orang tua hamba yaa rabb, mereka sudah begitu baik menyayangi hamba yaa rabb. Yaa rabb ampuni dosa seluruh keluarga hamba yaa rabb. Yaa rabb ampuni dosa guru guru hamba yaa rabb, mereka yang selalu memberi ilmu tanpa rasa bosan. Yaa rabb ampuni dosa sahabat hamba yaa rabb, mereka baik yaa rabb Yaa rabb ampuni dosa teman teman hamba yaa rabb. Yaa rabb ampuni dosa yang telah dzalim kepada hamba yaa rabb. Semoga kami terus diberi hidayah, kesehatan, kesalamatan dan rezeki yang halal lagi berkah. Aamiiin yaa Allah yarobbal 'alamin

 Tak terasa setetes air meluncur dengan tenangnya membasahi pipiku, dan kusadari bahwa itu air mata yang selalu kutunggu ketika berdoa, karena ada sensasi tersendiri ketika berdoa lalu menangis kalo tidak nangis berarti ada sesuatu yang membuat hati jadi keras dan harus segera minta ampun.

 Setelah selesai doa aku mengambil mushaf diatas nakas, dan mulai mengaji lalu dibaca terjemahannya. Ketika masih ada waktu menuju adzan subuh aku luangkan waktu untuk murojaah hafalan walau sediklt. Setiap harinya aku terus menjalankan secara rutin agar terbiasa kecuali ketika datang bulan aku bangun lalu berdzikir.

 Tak terasa adzan subuh terlantun indah menandakan waktu subuh sudah tiba, kusudahi murojaah dan menjawab adzan.

 Pagi ini aku akan pergi bertemu dengan kedua sahabatku di kafe biasa yang sering kami kunjungi. Seperti biasanya pasti aku yang datang on time, emang kebiasaan sahabatku mengartikan WIB adalah Waktu InsyaAllah Berubah.

 Sambil menunggu aku memesan coklat panas pas sekali dengan udara yang sedang dingin, kuminum coklat panas sambil baca bismillah masyaAllah nikmat sekali, Alhamdulillah. 30 menit berlalu akhirnya yang aku tunggu datang juga.

 Tanpa merasa bersalah mereka langsung duduk dan meminum minuman yang ada di meja.
 "Ekheeemmm" "Kenapa zi, makasih loh ini udah dipesenin coklat panasnya" kata caca sambil terus minum.
 "Astagfirullah, kalian ini, pasti lupa" sindirku secara halus. 
 "Lupa apa zi?" tanya mayang.
 "Waalaikumslalam, kebiasaan deh kalian" ucapku terus terang.
 "Eh iya lupa assalamualaikum, diluar udaranya dingin zi ya kan yang?" alesan caca. "Iya ca" singkat mayang.
 "Gimana kalian ke depannya? kan kita udah lulus nih" kataku mulai serius.

 Emang niat kami ketemu untuk membahas nanti kami di masa depan akan seperti apa, tapi kalo mayang enak udah ada calon suami jadi dia mau langsung nikah.
 "Mayang mah udah tenang zi, bentar lagi baktinya ke suami, lah caca gimana coba bingung" kata caca.
 "Yeeeh ca, jadi kamu mau nikah juga?" godaku.
 "Nggaklah zi, calon aja belum nongol ke permukaan mana bisa nikah kalo gak ada calon prianya" ucap caca.

 Mayang hanya geleng-geleng melihat kami debat karena ini sudah menjadi kebiasaan kalo ketemu pasti debat.

 "Sudah sudah, jadi kalian mau kuliah apa kerja?" lerai mayang.
 "Kalo zia insyaAllah mau kuliah, tapi sebelum nunggu kuliah masih mau lanjutin ngajar di DTA" terangku.
--------------------
Bagaimana pendapat nya??, ini belum tamat loh. Biar gak ketinggalan jangan lupa buat Subscribe Serambicatatan.com via email dan nikmati pemberitahuan setiap kami melakukan pembaruan. Terimakasih atas segala support nya. Jangan lupa juga untuk membagikan ke sosial media kalian agar yang lain juga tau. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Cerbung: Kalimat Sakral Terucap

Cerbung: Kalimat Sakral Terucap
Cerbung: Kalimat Sakral Terucap

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat datang di Serambicatatan.com. Alhamdulillah setelah sebelumnya berhasil mempublikasikan karya tulis Cerbung yang berjudul Keluarga Ku Tak Semurah Rupiah yang belum membaca bisa klik disini. Langsung saja pada kesempatan ini Admin akan mempublikasikan karya tulis cerbung ke dua yang berjudul Kalimat Sakral Terucap. Cerbung ini di tulis oleh seseorang berinisial NF. Selamat membaca...
------------------------
Author : NF (Inisial Penulis)
Editor : HF (Inisial Editor)
Publisher : Serambicatatan.com

Kalimat Sakral Terucap

Pertama kali kita bertemu dalam keadaan tidak saling mengenal satu sama lain. Tak pernah terbayang sekalipun bahwa kita akan bertemu dan mulai menjalin pertemanan. Ini kisahku yang penuh dengan ujian dan berhasil mencapai puncak kebahagiaan.

Tanggal 25 sya'ban temanku Adit menawarkan untuk menjadi panitia pesantren kilat tingkat TK, SD, SMP. Via whatsapp

Adit : Assalamulaikum zia
Zia : Waalaikumsalam dit, kenapa?
Adit : Mau nanya yang kemarin ahad di kajian, gimana bisa?
Zia : Astagfirullah dit maaf lupa, hmm gimana ya, tadi nanya sama guru zia katanya DTA belum libur dit selama bulan ramadhan, tapi sanlat dimulainya kapan ya?
Adit : oh iya gpp zi kalo belum bisa, dari tanggal 8 ramadhan sampai 19 ramadhan, mulainya dari ba'da dzuhur sampe ba'da asar
Zia : Owalahhh itu mah sama kaya DTA dit, gini deh nanti zia bantu nyari temen buat jadi panitia sanlat gimana?
Adit : MasyaAllah zi syukron, nanti kabarin lagi ya.
Zia : Iya dit tenang, afwan.

Aku mulai berpikir siapa ya yang mau jadi panitia sanlat dan aktif di kajian rutin setiap ahad.

Hanya satu nama yang terlintas di kepalaku, dia ikhwan yang kemarin bertanya di kajian dan dia teman dari sahabatku.

Kenapa aku tahu dia teman dari sahabatku? 

Jawabannya karna sahabatku sering menceritakan dia tentang hijrah dan katanya selalu ikut kajian ahad rutin. Aku langsung kontak sahabatku Via whatsapp

Zia ; Assalamualaikum yang
Mayang : Waalaikumsalam cuy
Zia : Gini yang, kan zia ditawarin jadi panitia sanlat tapi zia gak bisa
Mayang : Sanlat dimana zi?
Zia : Di mesjid agung tempat kajian rutin 
Mayang : ohhhh iya iya, kenapa emang?
Zia : Kan zia gak bisa, zia udah bilang ke adit buat nyariin panitia yang bisa, kira kira temenmu yang itu bisa gak yaa?
Mayang : eumm maksudnya fahrul?
Zia : Iya yang, boleh gak minta tolong buat ajakin dia jadi panitia sanlat?
Mayang : eumm kamu aja deh yang bilangnya nih kontaknya Fahrul
Pesan | Tambah kontak
 Zia : Ya udah makasih ya yang, assalamualaikum
Mayang : Waalaikumsalam

Tanpa menunggu waktu lama aku langsung chat dia

Zia : Assalamualaikum
Fahrul : Waalaikumslam, ini zia ya? Tadi mayang sudah cerita
Zia : Iya kak ini zia, maaf ganggu waktunya. Jadi gini, zia diajak adit jadi panitia sanlat tapi zia gak bisa soalnya DTA belum libur. Zia bilang ke adit mau bantu cari panitia sanlat, kira kira kakak bisa gak jadi panitia sanlat?
Fahrul : Gimana ya zi, sebenernya kakak juga udah jadi panitia di mesjid deket rumah kakak
Zia : Owalah ya udah kak gpp, maaf udah ganggu
Fahrul : Gpp santai aja zi, kalo boleh tau mulainya kapan ?
Zia : Dari tanggal 8 ramadhan sampai 19 ramadhan
Fahrul : Oh iya iya, nanti deh dikabarin lagi 

Aku hanya bisa menghela nafas karena ternyata fahrul gak bisa juga. "Gimana ya aduhhh gak enak nih sama adit" ujarku dalam hati. Tapi mau tidak mau aku harus ngasih tau adit tapi tidak sekarang mungkin besok, ya iya lah sekarang sudah waktunya untuk beristirahat besok mungkin aku kasih tau adit.
-------------------------
Chapter satu Alhamdulillah sudah selesai, bagaimana pendapatmu? jangan lupa berikan keritik dan masukkan ke di kolom komentar ya. Jika menurut kamu Cerbung ini bermanfaat, jangan lupa bagikan ke teman-teman terdekat mu. Jangan sampai ketinggalan lanjutan cerbungnya, dengan cara subscribe kami melalui email. Terimakasih sampai jumpa di lanjutannya ya.

Cerpen: Rencana-Nya yang Tersirat

Rencana-Nya yang Tersirat
Rencana-Nya yang Tersirat
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang kembali di SerambiCatatan.Com tempat untuk para pembaca. Kali ini admin datang tidak dengan karya tulis admin sendiri. Tapi ini adalah cerpen kiriman dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya wkwkw. Sebelumnya admin sudah meng-upload karya tulis cerpen terbaru yang berjudul Lima Ratus Untuk Mie Ayam.

Biar gak terlalu lama penasarannya langsung aja di baca ya Cerpennya.
----------------------------

Author : NF (Inisial Penulis)
Editor : R Ayi Hendrawan S

Rencana-Nya yang Tersirat

Masa putih abu merupakan hal yang paling menyenangkan karena banyak pengalaman baru, teman baru,sahabat baru, bahkan pacarpun baru. Masa remaja masa pencarian jati diri yang sebenarnya, terbawa arus lingkungan sudah biasa terjadi bagaimana cara memilah yang baik dan benar namun tak sedikit yang salah memilih jalan.
Namaku Ghatziya Mufida biasa dipanggil Zia, perjalanan hidupku sungguh membuat sport jantung, teman terdekatpun hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkahku yang berubah ubah.

Sebelum masa putih abu, tepatnya kelulusan SMP, dimana para murid memilih melanjutkan kejenjang SMA/SMK. Pada saat itu aku sendiri ingin masuk pesantren, namun kelurgaku tidak mengijinkan dengan alasan jauh, darisana aku sendiri tidak tau harus dilanjut kemana,tapi kakaku sudah mendaftarkanku ke sma, akupun tidak tau hanya pas pengenalan sma atau orientasi aku disuruh ke SMA 1 Negeri Jalancagak, aku hanya bisa menjalani alur sang pencipta, saya orang yang pendiam gak banyak ngomong, temanpun bisa dihitung jari, rajin puasa, pinter agama, ngajipun di acungi jempol oleh guru paiku.

Namun sejak kelas 11 sma mulai berubah karena berteman dengan orang yang menyukai artis korea, saya mulai aktif disekolah, banyak ngomong atau bawel, joget joget korea, puasapun sampe ditinggalkan, itu berpengaruh ke lingkungan rumah, saya mengenalkan korea ke temen yang dirumah dan mereka menerima dengan senang hati, hari demi hari kami mengikuti tren korea dengam tidak memakai kerudung, pake celana pendek, dance cover, dan mengikuti roleplayer,

Roleplayer atau rp merupakan dunia maya yang memerenkan artis korea favoritnya sampai mempunyai couple, dan aku mempunyai couple tentunya, dari mulai dunia maya pake garis miring(seakan akan dunia nyata dan melakukan kegiatan sehari hari), dan sampe ketingkat baper didunia nyata, dari saling perhatian pengertian sampe ke jadian menjadi sepasang kekasih.
Hari demi hari terlewati, pacarku ini sangat romantis yang selalu bikin melayang ke udara, oh iya dia namanya fadil asli orang aceh, kami selalu bertukar cerita, vidcall, telpnan.
Namun ternyata kakanya fadil mengetahui bahwa dia mempunyai pacar dan pastinya menentang pacaran.

Kakaknya langsung japri aku dan bilang bahwa fadil akan dijodohkan.

Duniaku seakan runtuh merasakan sakit hati yang hebat namun fadil menenangkan ku dengan ngajak berubah menjadi lebih baik sama sama. Kami ngaji bareng dan itu hal yg paling aku sukai, namun saat waktunya tiba kakaknya terus menerorku dengan perkataan jangan berharap bisa dapatkan fadil karna fadil akan dijodohkan.

Aku hanya bisa terdiam dan tidak bisa mengelaknya karna aku menghargai kakaknya.
3 hari kami lost contact, aku bertekad untuk benar benar kembali ke Allah, menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangannya, aku giat mencari ilmu dan ngaji kembali, soal fadil aku pasrahkan ke sang pemilik hati.

Setelah 3 hari fadil mengabarkan bahwa dia akan bersikeras menolak perjodohan dan akan fokus kuliah untuk masa depan bersamaku dia meminta aku menunggunya selama 5 tahun, dalam hati tentunya senang ternyata fadil memilihku, namun aku mengatakan ke fadil,"terimakasih telah memilihku tapi untuk masalah menunggu antara iya dan tidak, alasannya aku tidak mau berharap lebih ke manusia akan kupasrahkan ke sang pencipta, percayalah kalo jodoh kita akan dipertemukan kembali"

Fadil "Tunggulah aku, teruslah menjadi lebih baik, maaf mungkin ini yg terakhir insyaAllah 5 tahun kedepan akan kukabari"
Aku hanya bisa terdiam bingung dan membalas membalas "terimakasih kepada kakakmu yang menjadi perantara buat kita menjadi lebih baik, sampaikan salamku semoga kakakmu diberi kesehatan,aamiiin"

Sehari kemudian dia hapus akun WA dan kami benar benar lost contact,, sampai saat ini aku hanya ingin menggapai ridho Allah, namun akan ku ingat cerita ini sampai kapanpun karna menjadi titik balik menjdi ke yg lebih baik lagi.
---------------------------
Bagaimana pendapatnya para pembaca setia Serambicatatan? Terimakasih ya sudah mampir di blog saya. Jangan lupa untuk di Share jika merasa Cerpen ini berguna dan Berkomentar di kolom Komentar di bawah postingan ini. Cukup sekian dulu postingan kali ini sampai jumpa di postingan selanjutnya. Buat kamu yang pengen karya tulisnya di publikasikan di Website kami, baca cara berikut Tips dan Cara Mempublikasikan Karya Penulis Muda. Website ini menunggu karya terbaik Mu.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Cerpen: Lima Ratus untuk Mie Ayam

Cerpen: Lima Ratus untuk Mie Ayam
Cerpen: Lima Ratus untuk Mie Ayam

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua, Taqabballahu minna wa minkum, Shiyaamana wa shiyamakum. Kullu’aam wa antum bikhair Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon maaf lahir dan bathin untuk semua pembaca setia Serambicatatan.com. Pada kesempatan yang berbahagia dalam kondisi yang Fitri di Hari raya Idul Fitri 1440 H/2019 M. Semoga kita mampu mempertahankan amalan kebaikan yang sudah kita laksanakan di bulan Ramadhan yang lalu.

Pada postingan sebelumnya Admin telah mempublikasikan cerpen yang berjudul Jagalah Dia 'Cahaya Kebaikan'. Buat para pembaca yang belum membaca postingan sebelumnya silahkan di baca bagi yang penasaran.
Postingan kali ini bercerita tentang kebesaran Allah yang saya rasakan dan tak pernah saya lupakan. Selamat membaca semoga bermanfaat. Allahuakbar.
---------------------------
Author : R Ayi Hendrawan Supriadi

Lima Ratus untuk Mie Ayam


Bangun pagi sudah menjadi keharusan yang hakiki. Terbangun ketika adazan shubuh dan segera bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh di mes sekolah. Selesai sholat subuh aku bergegas untuk mandi karena yang namanya hidup di lingkungan mes telat sedikit saja pasti akan kesiangan masuk ke sekolah, apalagi sekolah ku sekolah super (Apel jam 6.15). Bergegas aku untuk mandi. Semangat pagi kala itu selalu menemani setiap langkah dalam menjalani pendidikan disana.

Berniat membeli sebungkus nasi untuk sarapan, ternyata uang di dompet hanya sisa Rp500. "Hmmm tak apa,"pikir ku masih pagi dan belum juga terasa lapar. Semangat yang menuntun langkahku ke lapangan apel pagi. Mendengarkan amanat pembina yang selalu memberikan motivasi terbaik dengan sejuta pengalaman yang sudah beliau dapatkan ketika menjadi abdi negara dahulu. Rasanya tak sarapan pun membuat ku tetap bersemangat. Pembelajaran yang diberikan oleh guru hari itu berjalan lancar.

Tepat pukul 11.00 aku baru tersadar bahwa hari ini adalah Jum'at dan ada kewajiban yang harus ditunaikan, yaitu menunaikan shalat Jum'at. Dari ruang kelas aku segera ke Mes tempat tinggal untuk mandi sebelum berangkat ke masjid. Secepatnya menggunakan seragam sekolah kembali untuk sholat di masjid yang ada di sekolah.

Suasana yang sejuk dan rasa lelah di badan membuatku mengantuk (Sesekali tertidur) selagi imam membaca khotbah. Hingga akhirnya aku terkejud karena ada yang menabrak kaki ku yang terlipat. Ya itu adalah kotak amal. Dengan muka kaget aku memeriksa semua saku ku, berharap ada uang untuk aku masukkan. Disaku celanaku ada yang terasa keras dan setelah ku ambil ternyata itu adalah uang 500 yang aku punya. Hatiku berucap "Uang Rp500 sekarang ini buat beli makananpun tak bisa membuat kenyang, lebih baik aku isikan saja ke kotak amal". Akhirnya uang Lima ratus tadi aku masukkan. Imampun selesai membacakan khotbahnya lalu berdoa dan sholat Jumat berjamaah.

Semakin siang rasanya perutku mengadakan kontes musik, berdebug-debug suaranya. Sepulang sholat Jum'at aku mampir ke Lab Biologi untuk sekedar menyapa wali kelasku kala itu. Aku memang sudah biasa mampir kesana, jadi gurupun sudah tak heran. Tak lama, datang salah satu teman guruku. Beliau juga mengajar di sekolah ku. Namun tidak di kelasku. Teman guruku tadi meminta bantuan, untuk membelikan Mie Ayam di depan sekolah. Lalu beliau menawarkan, apakah aku mau atau tidak. Aku hanya tersenyum dan menjawab "Tidak usah Bu, terimakasih saya masih kenyang." Lalu Ibu itu meminta ku membelikan Mie Ayam tiga porsi. Jika ku hitung guru di Lab tersebut hanya ada 2 orang lalu kenapa Ibu itu memesan 3??. Aku beranjak dari Lab untuk membelikan Mie Ayam pesenan tadi. Sampainya aku di Lab, Ibu tersebut hanya mengambil 2 porsi saja, seraya berkata "Ini untukmu, makasih ya udah bantu Ibu. Jangan ditolak ini rezekimu.". "Terimakasih banyak Bu, kalau begitu Ayi pamit ke mes dulu ya Bu. Sekalian mau makan mie ayam ini dengan teman satu mes saya".

Alhamdulillah akhirnya ada makanan yang masuk ke perut ini. Sampainya di mes aku mengajak teman ku yang sama sepertiku untuk memakan mie ayam yang dibelikan oleh guru tadi. Akhirnya perut ini tidak lagi kosong dan semoga mie ayam tadi menjadi berkah. Sejak hari itu pemikiran ku terhadap Allah menjadi semakin bertambah. Aku yakin Allah tidak pernah tidur. Aku yakin Allah akan membantu makhluk-Nya pada saat yang tepat. Allah tidak akan meninggalkan makhluk-Nya yang sedang kesusahan. Semakin yakin bahwa Rezeki itu sudah ada yang mengatur hanya tinggal kita nya saja yang harus mau berikhtiar menjemput rezeki-Nya.
-------------------------

Terimakasih sudah membaca hingga tamat. Melalui cerita diatas saya berharap bisa membagikan pengalaman saya yang sangat menarik dan bermakna. Bahwa berserah diri kepada Allah Subhana wa taala ketika kita sudah melaksanakan semampu kita, itu adalah pilihan yang tepat. Allah maha mengetahui apa yang hambaNya butuhkan. Tugas kita hanya beribadah kepada-Nya dan beramal baik untuk sesama. Akhir kata saya ucapkam kembali Terimakasih. Jika menurut pembaca ini bermanfaat maka jangan lupa untu KOMENTAR dan BAGIKAN.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Cerpen: Jagalah dia 'Cahaya Kebaikan'

Cerpen: Jagalah Dia 'Cahaya Kebaikan'
Cerpen: Jagalah Dia 'Cahaya Kebaikan'

Cerpen: Jagalah Dia 'Cahaya Kebaikan'

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Salam sejahtera untuk kita semua. Apa kabar semua pembaca setia blog serambicatatan.com? Semoga dalam keadaan yang baik ya. Kali ini admin akan menceritakan tentang pertemuan admin dan awal pendekatan dengan seseorang yang paling membuat admin bahagia. Bahkan semua post di blog ini banyak terinspirasi dari dia. Salah satunya adalah Cerbung Keluarga Ku Tak Semurah Rupiah. Admin bisa sadar bahwa keluarga itu sangat berharga ya dari dia. Oke langsung aja yuk di simak.
-----------------------------
Penulis : R Ayi Hendrawan Supriadi

Untuk mu yang terkasih

Cahaya Kebaikan
Cahaya Kebaikan

Pertemuan bersamanya menjadi suatu hal luar biasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tepat tanggal 29 Juli adalah kali pertama ku memberanikan diri untuk mengajaknya keluar sekedar berjalan di taman kota. Jawaban yang ku harapkan terlontar dari bibir cantiknya. Ia mengiyakan ajakan ku.

Di taman itu menjadi saksi kedekatan ku dengan gadis spesial itu. Gadis sepesial yang memiliki arti nama Cahaya Kebaikan.  Obrolan yang bertopik perkenalan membuat kita saling bertanya tentang kehidupan masing-masing. Siapa yang sangka setelah malam itu, hari hari ku menjadi lebih berwarna dengan kehadirannya.

Dengan segala kekurangan yang ku miliki, aku bermimpi untuk memiliki nya. Senyum nya yang manis, tutur kata yang lembut itulah yang membuat hati ini selalu merindukan nya.

Berbeda suku, berbeda pulau, berbeda budaya hanya menjadi masalah kecil untuk aku hadapi. Perdebatan tak pernah berhenti mengikuti pertemuan angtara ku dengan nya. Namun, selalu ada kata saling mengalah demi tetap bersama.

Kedewasaan merupakan pondasi penguat kisah ini. Sedikit pun terjadi kesalahan, kedewasaan lah yang akan meredamnya. Terkadang ada penyesalan dalam hidup ini, seharusnya raga ini yang bisa mengayomi nya. Namun terkadang aku hanya mampu terdiam.

Perdebatan tentang masa lalu juga sering muncul terlebih karena diriku yang terlalu cemburu. Namun tak apa, karena cemburu berarti diriku sangat menyayangi nya.

Kehadiran dirimu membuat setiap hariku penuh semangat. Namu mu yang indah akan selalu ku ingat dan ku sebut dalam setiap do'aku.

Tentang kisah ini, maafkan bila diriku belum menjadi yang terbaik untuk dirimu. Aku akan tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk mu.

Semua yang ku lakukan saat ini sudah jelas arah dan tujuannya. Ku tujukan semuanya untuk mengabadikan kisah kita hingga kau menjadi tulang rusukku dan ku menjadi tulang punggung mu. Hidup berdampingan selamanya, hingga waktu yang memisahkan kita.

Bukan hanya hayalan atau bualan, namun ini sebuah pilihan. Izinkan diri ini untuk berusaha membuktikan. Jagalah dia ya Allah saat dia jauh dariku. Luas samudera yang membentang jauhnya jarak yang menjadi batas bukanlah sebuah masalah. Ku yakin kan pada diri tentang sebuah kesetian. Kesetiaan yang ku lakukan pasti mendapat balasan kesetiaan pula darinya. Ya Allah jagalah dia, lindungi dia. Dia gadis yang ku sayangi. Semoga aku dan dia berjodoh. Salam hangat untuknya 'Cahaya Kebaikan'.
------------------
Sudah sampai kita diakhir cerita yang admin buat kali ini. Ini tentang kisah pribadi yang ingin admin publikasikan. Semangat untuk semuanya. Jangan lupa untuk Like, Share dan Komentar. Berikan komentar terbaikmu di kolom komentar. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca jangan lupa untuk mengklik salah satu iklan jika ada yang cocok dengan kamu. Tetap semangat.

Cerpen Sang Legenda Hidup

Cerpen Sang Legenda Hidup
Sang Lgenda Hidup

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Salam sejahtera untuk kita semua, Selamat berpuasa bagi umat Islam di Dunia. Bagaimana dengan kondisi mu para pembaca setia SerambiCatatan.Com? Semoga selalu dalam keadaan yang sehat dan baik. Sudah lama rasanya tak ada postingan baru dari blog ini. Buat kamu yang belum baca, langsung aja klik Cerpen "Melupakan (waktu)". Pada postingan kali ini, penulis kembali mengangkat tema keluarga yang isinya pada tujuan utama menunjukkan begitu legenda nya kedua orang tua penulis. Langsung saja yuk di baca
-----------------

SANG LEGENDA HIDUP

Penulis : R. Ayi Hendrawan Supriadi


Beningnya air dalam gelas menghampiri saat ku terbangun, disiapkan untuk melepas dahagaku. Belaian kelembutan tangan yang tak bisa ku buhongi. Hari yang indah selalu datang menyapa setiap paginya. Senyum dari asap nasi goreng yang dibuat oleh nya menyambut pagi ku. Memberikan semangat untuk ku beraktifitas. Tak kan ada yang bisa menggantikannya.

Mereka yang bekerjasama setiap waktu berusaha memfasilitasiKu, begitu indah caranya. Hingga saat nya aku harus berjauhan dengan mereka. Tumbuh dewasa nanti yang mengharuskan ku menjadi sosok seperti mereka. Tak ada kata siap hingga saat ini untuk menggantikan nya.

Kelembutan dalam menyayangi, ketegasan dalam mendidik menjadi pilar kuat untuk ku berdiri ditengah badai dan gelombang peradaban yang menerjang. Kesederhanaan menjadi ciri gayanya dalam menjalani hidup. Bersyukur adalah motonya dalam meningkatkan kehidupan.

Andai materi menjadi alat ukur rasanya lebih dari 12 angka bahkan tak ternilai apa saja yang sudah aku terima darinya. Kemandiriian yang aku rasakan adalah bukti nyata ilmu yang sudah mereka berikan. Sungguh, hanya kesuksesan diriku yang bisa membayarnya.

Setiap hari yang terlewati dengan berbekal semangat dari rumah ku ikhtiarkan untuk membangun kesuksesan diri. Semua yang bisa ku coba, sudah ku coba taka da satupun yang terlewat. Namun, kegagalan yang terlebih dahulu menghampiri. Bersamaan dengan itu Ayah dan Ibu ikut larut dalam kehidupan ku dan seakan memberikan booster semangat. Senyum mereka dan motivasi mereka yang membuat ku tetap bersemangat. Jika ada yang ingin mengambil mereka dariku, sudah ku pastikan gendering perang akan berbunyi.

Ini bukan tentang diriku yang serba kekurangan, tapi ini tentang mereka yang serba mengajarkan. Ayah dan Ibu, mereka yang mengurusku sejak dari ini lahir ke dunia. Saat diriku terbangun di malam hari hanya karena popok ku basah aku menaangis. Namun mereka balas dengan lekuk senyum indah seraya bernada “tidurlah pangeran kecil ayah dan ibu”.

Sejak kecil diriku yang mudah sekali menangis enatah apapun masalahnya selalu ku tunjukkan dengan tangis dan teriakan. Jangankan untuk menghasilkan uang seperti artis cilik di TV, untuk makanpun aku tak mau dan berujung tangis. Namun lagi, mereka menyuapiku dengan sabar. Hingga aku tumbuh besar dan penuh ambisi. Peringkat terbaik kelas yang selalu aku raih dari sejak Sekolah Dasar hingga SMK, ternyata tidak lebih hanya menghasilkan kesombongan diri. Tanpa disadari keputusan ku untuk tetap melanjutkan pendidikan. Itu adalah bukti dari kesombongan ilmu yang sudah ku peroleh. Bukan nada lembut yang ku gunakan, dan itu mungkin sangat menyakiti hati mereka. Memvonis diri ini sombong bukan tanpa sebab, di tengah keuangan keluarga yang belum berkecukupan, adik yang masih kecil dan Aku tetap memaksa untuk melanjutkan.
Tergores hati mereka, mungin itu yang ku rasa. Penyesalan satu persatu datang. Setelah bermuhasabah diri. Ku hanya mampu menitip pesan untuk Mereka pada Allah Subahana Wa Taala bahwa keputusanku untuk melanjutkan, semata-mata hanya ingin membanggakan mereka dengan kesuksesan yang insyaallah akan ku gapai.

Kesabaran mereka kembali merestui langkah ini. Langkah yang ku ikhtiarkan dan baktikan untuk kedua Orang Tua Ku. Terima kasih atas semua pengorbanan yang telah dilakukan hingga ku tumbuh menjadi pria Dewasa yang tanggung jawab, jujur, dan mandiri. Andai ada yang bisa aku berikan, aku hanya ingin bisa memberikan Surga kepada mereka. Ya Allah, ampuni hamba. Hamba yang penuh dosa ini. Ya Allah, Engkau maha mengetahui. Hamba adalah anak dari kedua orang tua yang hebat. Hamba ridha ya Allah jika mereka masuk ke dalam Syurga Mu. Ya Allah jika mereka mendahului hamba, kelak persatukanlah mereka dan tempatkan mereka di sisi mu di tempat yang sebaik-baiknya. Aamiin ya Allah ya Rabbal Alamin. AYAH…. IBU…. AKU MENYAYANGI MU…
----------------

Terima kasih sudah membaca cerita diatas semoga bisa terambil nilai-nilai baiknya dan jadikan nilai-nilai yang kurang baik untuk muhasabah diri. Jika merasa cerita ini bermanfaat jangan lupa untuk LIKE, SHARE, COMMENT dan BERLANGGANAN via EMAIL agar dapat menerima pemberitahuan terbaru dari kami. Terima kasih atas support dan doanya. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Tags :
Cerpen sang legenda,
Cerpen legenda hidup,
cerpen ayah bunda,
cerpen ayah ibu,
kesaktian ayah ibu.
Cerpen terbaru 2019
Cerpen Mei 2019

Cerpen Melupakan (Waktu)

Cerpen Melupakan (Waktu)

Cerpen Melupakan (Waktu)
Cover Cerpen Melupakan (Waktu)

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang kembali di SerambiCatatan.Com. hai hello apa kabar sahabat? Semoga dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Postingan kali ini kembali membawa sebuah cerpen yang insyaallah penulis sisipkan pesan kehidupan dalam ceritanya. Cerpen kali ini menceritakan tentang perjalan hidup sesorang yang pernah terlena dengan kelalaian. Kita hanya manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Cerita ini merupan self reminder yang penulis buat dan ingin dibagikan bersama para pembaca lainnya. Oh iya jangan lupa kunjungi cerpen sebelumnya yang berjudul "Mentari di Ujung Pelangi"

Langsung saja berikut cerpennya :
------------------------------------------------

Judul   : Cerpen Melupakan (Waktu)
Author : R Ayi Hendrawan Supriadi

Mentari pagi bersinar, menusuk dinginnya tubuh ini. Aku terbangun pagi itu merasakan sebuah keresahan dari sebuah kalalaian. Sedikitpun tak ada suara yang ku dengar, terbingung dengan apa yang terjadi di hari ini. Renungan yang ada dalam pikiran.
Pagi itu aku bergegas ke kampus untuk menerima pembelajaran. Waktu yang mulai sudah mepet masuk, dan artinya keterlambatan di depan mata. Teringat bahwa dosen yang mengajar adalah dosen yang kiler, haduuh keluh ku.

Benar saja sampai di depan kelas dosen itu sudah mulai mengajar, dengan kegelisahan mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Tok tok pintu itu berbunyi. Semua orang seakan melihat kepada ku yang lusuh. Benar saja dosen itu langsung menceramahi ku tentang kedisiplinan, hmm sudahlah gumam ku dalam hati. Sepuluh menit berlalu aku diceramahi, mungkin sudah lelah.

Mengikuti pembelajaran dengan kondisi seperti ini rasanya sangat sulit diterima. Hingga jam kuliah selesai hanya mengantuk yang aku rasakan. Terdengar seruan adzan dari masjid di kampusku, teman teman ku segera bergegas dan ada yang mengajak ku kesana. Tapi aku salah dalam memilih, bermain game bersama teman yang lain yang aku pilih. Rasanya tak ada waktu yang bisa kulewatkan tanpa bermain ponsel pintar.


Gambar ilustrasi Jam buram oleh Ponsel Pintar
Gambar Ilustrasi
Terlalu terlena dalam sebuah permain tak terasa jam menunjukkan pukul 14.50 yang artinya aku sudah terlambat melaksanaka sholat Dzuhur. Segera setelah itu berlari ke masjid untuk sholat, sampai disana berkumandang sholat Ashar. Lalai diri ini hingga melaksanakan sholat diakhir waktu hanya karena bermain game.

Badan ini terasa lelah karena kemarin malam sudah bergadang. Aku pulang. Sampai dirumah kontrakan. Aku segera berbaring dan tertidur. Tidak terasa aku terbangun jam 20.00 dan kembali melewatkan sholatku. Namun, kesalahan yang aku lakukan tertambah karena bukannya langsung sholah tetapi malah bermain ponsel pintar hingga larut malam.

Semua ini selalu terulang dalam hari hari ku. Lelah memang namun entah mengapa selalu ingin mengulanginya setiap hari. Seolah godaan ini terlalu besar, atau iman yang masih lemah, pikir ku.
Lelah yang berkelanjutan membuat ku mencari kesana kemari untuk mempelajari mengapa aku seperti ini. Dalam sebuah mesin pencari aku menemukan sebuah bacaan yang membuka pemikiran ini. Bacaan tersebut menceritakan tentang ayah yang hanya akan menerima lamaran dari seorang pria untuk anak perempuannya, jika pri tersebut mampu menjaga sholat lima waktunya. Ayah anak tersebut menjelaskan, bahwa seseorang yang mampu menjaga sholatya dengan baik maka ia adalah orang yang mampu memanage waktu dengan baik, “Jika perintah tuhannya masih dilalaikan, bagaimana dengan permintaan seorang istri yang bukan tuhan” tegas ayah kepada anaknya.

Mespikun dalam bacaan tersebut tentang obrolan ayah kepada anak perempuannya, aku mendapatlkan penjelasan yang tersirat dalam obrolannya. Saat ini mulai tersadar bahwa aku harus memperbaiki kualitas sholat lima waktuku. Karena Sholat itu bukan hanya melaksanakan tetapi harus tepat waktu seperti dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 103:

“Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [QS. An-Nisaa' : 103]”

Pembelajaran penting aku dapatkan, demi kebaikan hidupku. Hari demi hari mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah seiring dengan aku mengurangi kegiatan bergadang untuk bermain ponsel pintar, aku sudah bisa dan biasa kembali terbangun di shubuh hari untuk melaksanakan sholat. Kuliah yang tadinya selalu terlambat sekarang tidak. Ini semua karena kedisipilinan, kedisipilnan yang aku terapkan dalam melaksanakan sholat. Tapi bukan hanya melaksanakan namun Mendirikan.
Sekarang aku tersadar bermain ponsel pintar yang sering dilakukan dapat membuat waktu terbuang sia sia dan melupakan apasaja bahkan waktu yang Allah berikan untuk beribadah.

-----------------------------------------------
Sampai di akhir postingan hari ini, terimakasih yang sudah membaca. Jangan lupa BAGIKAN jika menurut sahabat Cerita Pendek ini bermanfaat. Jangan sampai terlewat postingan terbaru dari kami dengan cara SUBSCRIBE via email dan berikan KOMENTAR POSITIF  semua ini gratisss. INGAT SEMUA INI GRATIS. Semoga pesan pesan yang igin disampaikan penulis, bisa tersampaikan dan mudah dimengerti. 

Teruntuk sahabat yang ingin karyanya di publikasikan bisa menghubungi admin atau klik disini.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya Sahabat,

Tags:
Cerpen terbaru
Cerpen nilai keagamaan
Cerpen Muhasabah diri
New Update Story
True Story